Identitas Sebatang ROKOK

Posted by bukamata1107 on March 17, 2008
“Tidak ada kemalangan yang lebih buruk daripada kekerasan hati.” (Malik bin Dinar)
Ngerokok alias ngudud bin nyemok udah jadi rutinitas di sekitar kita. Nggak mandang usia, status sosial, status pendidikan, atawa jenis kelamin, rokok temenan ama siapa aja. Nggak di kampus, warteg, sekolah, dalam rumah, atau toilet, asap rokok pun ngebul dimana-mana. Padahal dulu, nggak sembarang orang bisa ngerokok. Waktu di SMP, temen-temen pada ngumpet di belakang sekolah pas jam istirahat agar bisa ngisep rokok. Satu batang dikeroyok rame-rame biar cepet abis dan irit. Abis itu, pada beli permen penyegar mulut untuk ngilangin bau asbak, eh rokok. Padahal mah, boro-boro wangi. Apalagi kalo dari pagi belon sikat gigi. Rokok + permen + ’bau naga’. Whueks..!
Budaya rokok di negeri kita emang makin merajalela. Nggak heran kalo dr Nawi Ng MPH, PhD dari Quit Tobacco Indonesia (QTI) pernah bilang “Indonesia Termasuk 5 Negara dengan Konsumsi Rokok Terbesar di Dunia.”. Beliau menambahkan, konsumsi tembakau di Indonesia meningkat 7 kali lipat dalam jangka waktu 3 tahun (1977-2000) dan prevalensi penggunaan tembakau di Indonesia telah meningkat dalam segala usia (ugm.ac.id, 27/07/07). Waduh!
Rokok Kian Menjerat Remaja
Global Youth Tobacco Survey (GYTS) WHO pada 2006 mengungkap, 37,3% anak-anak usia 13 hingga 15 tahun di Indonesia sudah membakar rokok. Dan dalam GYTS 2007, jumlah perokok anak usia 13-18 tahun di Indonesia menduduki peringkat pertama di Asia. Bahkan tiga dari sepuluh pelajar SMP di Indonesia (30,9%) mulai merokok sebelum umur 10 tahun. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat 4% tiap tahunnya. Malah, Komnas Perlindungan Anak (KNPA) mencatat, tren merokok kian bergeser ke usia yang jauh lebih muda: lima tahun. ‘’Ini usia anak TK!,’’ kata Ketua KNPA, Ka’ Seto Mulyadi. (Republika, 02/03/08).
Berdasarkan penelitian di Universitas Andalas, motivasi anak merokok di usia dini adalah coba-coba, pengaruh teman, untuk meningkatkan kepercayaan diri ketika bergaul dengan teman, teladan orang tua, dan ingin terlihat lebih gagah kaya dalam iklan (Jambi Online,11/01/08). Rupanya tren merokok bagi remaja kian menjadi tuntutan pergaulan. Terutama kalangan anak cowok. Kalo ada temennya yang anti rokok, dibilang banci. Walhasil, ada rasa gengsi dan malu kalo mulut nggak ikut ngebul pas lagi kumpul bareng. Tetep pede meski diselingi batuk-batuk dikit. Maklum pemula!
Nggak cuman anak cowok, remaja putri juga mulai banyak yang deket ama lintingan tembakau. Sebuah riset menemukan, rata-rata remaja merokok agar berat badannya turun dan langsing! Riset ini dirilis oleh Profesor Jenny O’Dea dari Universitas Sydney, Australia seperti dilansir ABC News Online, Rabu (13/7/2005). Keinginan ingin langsing itu diakui oleh 3% remaja perokok berusia 11 hingga 14 tahun dan 7% pada gadis muda sekitar 20 tahun yang dirisetnya (Detik.com, 13/07/05).
Makin lengketnya remaja dengan rokok banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Lantaran mereka hidup diantara para perokok aktif. Di rumah, bokap sering keliatan asyik ngepulin asap rokok sehabis makan atau selagi santai. Di sekolah, mulai dari tukang dagang sampe guru pun nggak ketinggalan merokok. Akhirnya, aturan larangan merokok dari guru atau ortu dianggap angin lalu. Ya iyalah, wong yang bikin aturannya sendiri ngerokok. Masuk akal dong kalo anak didik ikut meniru. Betul?
Pancingan untuk jadi perokok bagi remaja juga datang dari industri rokok. Tiap hari remaja dicekokin oleh iklan rokok yang menggoda dengan label keren, macho, en bikin confident. Menurut riset yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan tahun 2006, sebanyak 9.230 iklan rokok terdapat di televisi, 1.780 iklan di media cetak, dan 3.239 iklan di media luar ruang, seperti umbul-umbul, papan reklame, dan baliho (Kompas, 09/11/07). Hasilnya, penelitian Komnas Anak Jakarta menunjukan bahwa 99,7% remaja Jakarta terpapar iklan rokok lewat televisi; 36,7% terpapar iklan baliho di jalan dan media cetak; dan 81% pernah menghadiri kegiatan yang diselenggarakan atau disponsori industri rokok.
Dan sialnya, justeru kegiatan remaja yang paling banyak didukung sepenuh hati oleh industri rokok. Lantaran bagi produsen rokok, remaja adalah calon pelanggan tetap di hari esok. Dukungannya juga nggak setengah-setengah, dari promosi acara hingga pembagian rokok gratis di ’TKP’. Otomatis makin tak ada alasan bagi remaja untuk ’musuhan’ ama rokok.
Padahal kalo udah kecantol ngerokok, susah berhentinya. Awalnya tuntutan pergaulan, terus jadi kecanduan. Lantaran dalam rokok ada kandungan nikotin yang bersifat adiktif alias bikin ketagihan. Bawaannya mulut asem kalo sehari nggak ngerokok. Apalagi rokok dijual bebas. Dengan modal 200 perak aja bisa dapet sebatang. Atau kalo lagi cekak, banyak temen yang nawarin gratisan. Gimana bisa berhenti kalo kebutuhannya selalu terpenuhi dengan mudah dan murah!
Rokok dan Kesehatan Kita
Label peringatan akan bahaya rokok jelas-jelas tercantum di bungkus rokok meski dengan tulisan kecil. Tapi kayanya, nggak mempan tuh. Soalnya, bahaya rokok kan nggak kaya racun tikus yang sekali tenggak langsung bikin kejang-kejang. Rokok perlu waktu lama untuk nunjukkin bahayanya yang mematikan. Jadinya banyak perokok yang cuek bebek dengan bahaya rokok. Kecuali kalo udah kerasa sakitnya kali yaa..
Seperti yang dialami seorang atlet Softball, Albertie Charles Sompi (48). Setelah 17 tahun ’bermesraan’ dengan rokok, akhirnya doi divonis kena kanker paru-paru. Akibatnya, sebagian paru-paru kanannya harus diangkat karena ada lubang sebesar 3 cm. Dan 2 bulan kemudian, sel-sel kanker itu menggerogoti usus besarnya sehingga harus dipotong dua pertiganya (Detik.com, 30/05/07).
Apa yang dialami Berti, bukan terjadi seketika lho. Tapi sebuah proses panjang yang diawali saat pertama kali doi nikmatin asap rokok yang ternyata mengandung 4.000 bahan kimia berbahaya. Dan lebih dari 250 diantaranya merupakan toksik atau karsinogenik penyebab kanker. Selain tar dan nikotin, dalam rokok juga ada aseton, butan, arsenik yang biasa ditemukan pada racun serangga; kadmium yang juga ditemukan pada aki mobil; karbon monoksida yang ditemukan pada asap knalpot mobil; serta toluen yang juga dipakai sebagai pelarut industri. Gile bener, emangnya tubuh kita tempat sampah?
Selain kanker paru-paru, kebiasaan ngerokok juga ngasih efek buruk pada kesehatan gigi dan mulut. Lidah jadi susah ngerasain rasa pahit, asin, dan manis, karena rusaknya ujung sensoris dari alat perasa (tastebuds) akibat tumpukan hasil pembakaran rokok yang berwarna hitam kecoklatan. Jumlah karang gigi yang bisa bikin gusi berdarah pada perokok cenderung lebih banyak daripada yang bukan perokok. Gigi dapat berubah warna karena tembakau. Dan perubahan mukosa (selaput lendir) akibat merokok menyebabkan kanker mulut (Gizi.net, 06/03/2008).
Bahkan kebiasaan ngerokok mengancam kesehatan organ seksual. Untuk cowok, bisa mengalami disfungsi ereksi alias impotensi kalo udah tua. Makalah ahli jantung dari RS Jantung Nasional Harapan Kita, Dr. Santoso Karo Karo, SpJP., menyebutkan rokok meningkatkan risiko terkena disfungsi ereksi hingga 50% -terutama berkaitan dengan masalah pada pembuluh darah (Rileks.com, 18/02/08).
Sementara wanita yang saat remaja diketahui menjadi penghisap rokok dikemudian hari akan mengalami resiko 21% terkena kanker payudara bila dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok. Demikian hasil penelitian Dr Janet E Olson dari Mayo Clinic College of Medicine di Rochester Minnesota (AS) yang dipublikasikan dalam ‘the journal, Mayo Clinic Proceedings‘ (JakNews.com, 16/12/05).
Saking banyaknya dampak buruk rokok bagi kesehatan kita, nggak heran kalo setiap tahunnya angka kematian di dunia mencapai lima juta orang diakibatkan berbagai penyakit yang disebabkan rokok, seperti kanker paru-paru dan penyakit jantung. Di Indonesia sendiri, menurut Demografi Universitas Indonesia, sebanyak 427.948 orang meninggal rata-rata per tahunnya. Dan angka kematian ini secara keseluruhan diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 juta orang di tahun 2030, dengan jumlah korban terbanyak berasal dari negara berkembang. Demikian menurut data Organisasi Paru Internasional (World Lung Foundation/WLF) (Kompas.com, 02/02/08).
Pren, masa iya sih kita masih anggap omong kosong bahaya rokok terhadap kesehatan kita. Jangan tertipu ama produk rokok rendah tar dan nikotin yang menyesatkan. Bahaya rokok nggak jadi berkurang dengan diturunkannya kadar tar dan nikotin. Yang ada, merokok produk ini cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama. Bisa-bisa kita jadi awet muda alias nggak akan pernah tua lantaran keburu tutup usia selagi belia. Nah lho?!
Ambil Sikap Terbaik!
Pren, bukan kewenangan kita untuk ngelarang kamu-kamu ngerokok. Kita cuman bisa ngasih pertimbangan untuk ngejauhin rokok. Karena apapun sikap yang diambil, kamu sendiri yang bakal ngerasain konsekuensinya. Bukan kita atau orang lain. Kamu yang bakal ngerasain segala macam gangguan kesehatan akibat rokok. Kamu juga yang bakal nikmatin sehatnya hidup tanpa rokok.
Dalam Islam, hukum merokok pun masih banyak perbedaan pendapat. Ada yang melarangnya dengan tegas sampe tingkat haram, ada juga yang larangannya sekedar makruh. Ini bukan berarti hukum Islam plin-plan alias nggak jelas. Justeru, ini menunjukkan kehati-hatian para ulama dalam menghukumi sesuatu. Karena status perbuatan dalam islam, ditentukan oleh dalil-dalil syar’i. Bukan cuman ngeliat dari akibat yang ditimbulkannya.
Meski begitu, kita sebagai muslim dilarang menzhalimi diri sendiri. Apalagi sampe melukai atau membunuh. Allah swt berfirman:
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS an-Nisaa` [4]: 29)
Makanya, kita dianjurkan untuk menjauhi perilaku yang ngasih keburukan pada diri kita. Rasulullah saw bersabda:
“Seorang hamba tidak akan sampai kepada derajat orang-orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan perkara yang tidak ada masalah (mubah), karena khawatir akan terjerumus dalam perkara yang bermasalah (terlarang).” (HR. Al-Hâkim).
Nah pren, ternyata identitas sebatang rokok, bukan hanya mitos simbol kejantanan seperti yang digembor-gemborkan iklan. Tapi juga simbol penyakit kanker, impotensi, serta gangguan kesehatan lainnya. Dan pastinya, hidup tanpa rokok, nggak bikin kamu terhina kok. Malah jadi lebih keren dan sehat. Makanya, sangat beralasan bagi kita untuk nggak temenan ama rokok atau segera menghentikan kebiasaan ngerokok. Meski awalnya nggak mudah, asal serius dan konsisten Allah swt pasti ngasih jalan keluar. Ayo kamu bisa! [hafidz341@gmail.com]

Komentar

Postingan Populer